Tampilkan postingan dengan label Pergaulan Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pergaulan Bebas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juli 2013

Geliat PSP Kota Solo: Daun Muda, Konsumsi Segar STW


Wajah Baron pun berseri tatkala menerima pesan singkat dari ponsel miliknya. “BiasaMbak, pelanggan, wanita setengah tua (STW),” Saat itu dia tengah menerima pesanan pekerja seks pria (PSP) dari para pelanggannya.
Jika mendengar kata pekerja seks komersial (PSK), apakah yang langsungterlintas dalam pikiran anda? Kebanyakan dari anda akan membayangkan seorang wanita berpakaian seksi dan berdandan seronok, yang sering berkeliaran di malam hari untuk mencari lelaki hidung belang. Pernahkah terbersit dalam benak bahwa seorang PSK adalah laki-laki, masih muda, berpakaian modis, dan bertingkah laku wajar ? Ya, pekerja seks pria (PSP) atau yang lazim disebut ‘gigolo’ memang tidak terlalu jamak di kalangan masyarakat. Biasanya pemakai jasa PSP adalah orang-orang golongan atas yang tinggal di kota-kota besar. Namun, tahukah Anda jika PSP juga sangat mudah ditemui di kota Solo ini?
Bersama seorang kawan lama yang mengenal para pelaku ‘dunia hitam’, saya mencoba menelusuri keberadaan mereka di kawasan Solo Utara, wilayah yang cukup terkenal sebagai “kawasan lampu merah Kota Solo”. Jarum jam kala itu menunjukkan pukul 21.30 WIB. Suasana di sebuah warung hik di ‘daerah X’ terasa lengang sekalipun hari itu adalah malam Minggu. Hanya ada beberapa pembeli yang membeli minuman dan beberapa camilan untuk dibungkus. Maklum, hujan tak henti-hentinya mengguyur wilayah Solo Utara sejak sore hari. Saat itu empat pekerja seks pria (PSP) sedang berada di warung tersebut, menikmati minuman hangat dan rokok untuk sekedar mengusir rasa dingin.
Sebut saja mereka Baron (36), Agung (28), Hendi (31), dan Nano (19)–(bukan nama sebenarnya). Tidak ada yang mencolok dari diri mereka. Gaya berpakaian mereka seperti gaya berpakaian laki-laki pada umumnya. Tingkah laku mereka pun juga biasa saja, Saat saya datang, nampak raut wajah mereka tegang menaruh kecurigaan pada saya. Pertanyaan yang saya lontarkan banyak yang hanya mendapat jawaban singkat. Selebihnya, hanyalah anggukan dan gelengan kepala saja. Sering mereka hanya diam saja, tidak menanggapi pertanyaan saya. Kawan saya pun mencoba melakukan pendekatan kepada para PSP tersebut yang memang terkenal tidak mau banyak omong dengan orang asing.
Saya mencoba menggunakan bahasa Jawa untuk berbicara dengan mereka. Ternyata usaha tersebut berhasil. Mereka bisa sedikit terbuka pada saya. “Ajeng diengge napa to mbak?,” (mau dipakai untuk apa to mbak?) tanya Baron. Saat itu nyali saya sedikit menciut juga, apalagi melihat postur tubuh mereka yang tinggi besar. Saya menjelaskan tujuan wawancara ini untuk mengetahui kehidupan mereka secara lebih dalam. “Sik mbak, tokna barang-barangmu kabeh! Wah mbak, yen arep takon-takon thok, awake dhewe gelem wae, ning aja di photo,” (Sebentar mbak kaluarkan semua barang yang kamu bawa ! Wah mbak, kalau hanya bertanya-tanya, kita bersedia, tapi jangan difoto) tegas Baron. “Mbak, gelem ora mbayari aku karo kanca-kancaku mangan ?,” (Mbak, mau tidak mentraktir saya dan teman-teman saya makan ?) lanjutnya kemudian. Saya menyetujui permintaan itu. Mereka pun langsung mengambil makanan yang disajikan di warung hik tersebut.
Dari Mulut ke Mulut
Sambil menikmati sajian di warung hik, mereka bercerita tentang bisnis PSP di Solo. Pada awalnya Baron dan Hendi adalah PSP di kota-kota besar. Beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Denpasar, Yogyakarta sudah pernah mereka sambangi. Baron terjun ke dalam dunia ini sejak 7 tahun yang lalu, sedangkan Hendi sudah 5 tahun menggeluti profesi ini. Mereka adalah pemain lama di bisnis prostitusi pria. Lain halnya dengan Agung dan Nano, mereka baru sekitar dua tahun berada di bisnis ini.
Baron berperan sebagai ‘germo’ bagi mereka bertiga. Dialah yang bertugas mengatur jadwal para PSP untuk melayani tamu. Hingga saat ini dia sudah mempunyai 11 anak buah, termasuk Agung, Nano dan Hendi. Mereka ditampung di sebuah rumah di samping rumah Baron. “Saya juga harus pinter-pinter ngatur jadwal dan tamu buat mereka, 11 anak buah saya itu. Kalau nggak pinter-pinter ngatur bisa rame,” katanya. “Pelanggan cukup sms saja ke nomor hp saya, nanti saya datangi mereka, saya kasih fotonya, biar pelanggan sendiri yang memilih. Kalau yang udah pengalaman malah bisa ngatur jadwal sendiri, cari pelanggan sendiri,” terangnya.
Diantara sekian banyak anak buah Baron, hanya Hendi yang sudah banyak makan asam garam melakoni profesi ini. Jangka waktu 5 tahun sudah cukup membuat dia berpengalaman dalam mencari pelanggan. Kadang jika tidak ada tugas dari ‘si bos’ -panggilan anak buahnya kepada Baron- ia dan PSP lain yang juga sudah berpengalaman dibebaskan mencari pelanggan sendiri. Jika Baron menugaskan seorang anak buah, ia meminta jasa 30 persen dari penghasilan anak buahnya dalam melayani satu tamu. Namun, jika anak buahnya mencari pelanggan sendiri tanpa jasa darinya, maka ia tidak memungut jasa dari mereka. Berbeda dengan germo lain yang tetap mengharuskan anak buahnya membayar fee jika mendapat ‘tamu pribadi’.
Bisnis PSP memang sangat berbeda dengan PSK wanita yang dengan mudahnya diketahui oleh orang awam. Jaringan mereka sangat rapi dan jarang ada orang yang mengetahui atau mencurigai keberadaan bisnis prostitusi pria. Mungkin dari segi penampilan serta sikap mereka yang seperti masyarakat umum  membuat mereka tidak mudah dicurigai. Dinas terkait seperti Kepolisian, Satpol PP dan, Dinas Sosial juga jarang bahkan hampir tidak pernah menjaring para PSP ini. Dalam menawarkan jasanya pun mereka juga tidak sembarangan. Jarang sekali mereka menawarkan jasanya dengan turun ke jalanan seperti yang dilakukan oleh PSK wanita.
Para PSP ini lebih sering menawarkan jasa mereka dari mulut ke mulut. Terkadang mereka juga beriklan di media massa menggunakan kedok ‘massage pria’, tetapi tidak sebanyak penawaran dari mulut ke mulut. Biasanya para pelanggan baru mengetahui jasa PSP dari para pelanggan lama. Para pelanggan tinggal mengirimkan pesan singkat atau menelepon ke germo. Kemudian germo membawa foto anak buahnya kepada para pelanggan, lalu pelanggan bebas memilih PSP yang mereka inginkan. Sang germo tinggal mengatur jadwal dan tempat pertemuan antara pelanggan dengan PSP. Tetapi ada pula pelanggan yang langsung menghubungi PSP yang mereka inginkan. Biasanya mereka ini adalah pelanggan lama.
“Lebih banyak dibooking kita mbak. Nongkrong kalau pas sepi ajanggak kayak lonthe sing keluyuran terus,” terang Baron. Saat saya bertanya tempat-tempat mana saja yang biasanya mereka datangi jika nongkrong, ia mengatakan kawasan Sriwedari, Terminal Tirtonadi, Stasiun Balapan, Gilingan, mal, kafe, serta restoran menjadi tempat favorit mereka. Namun, tak selamanya mereka nongkrong jika sepi pelanggan. Terkadang jika jenuh mereka juga sering pergi untuk sekedar melepas penat. “Yah kadang kalau pas boring aja nongkrong Mbak. Kadang juga dapet mangsa. Sambil menyelam minum air lah. Yah kalo ada tante lewat yah disapa. Kalo mereka nanggepin, biasanya sering make. Kadang ada juga yang tahu kita ini bisa dicoba,” tutur Nano.
Tarif yang dikenakan pun beragam, tergantung kepada kelas PSP dan jenis layanannya. “Rp 150.000-Rp 500.000, tapi kalau pas bubruk atau nggak ada pelanggan sama sekali ya banting harga,” ucap Baron. “Saya pernah banting harga hingga Rp 15.000,” kata Agung menimpali. Harga tersebut adalah tarif pelayanan per jam. Untuk harga booking luar kota tarif yang dipatok bisa lebih tinggi lagi. Terkadang juga ada tip yang diberikan oleh pelanggan kepada PSP yang melayaninya. Tip tersebut diberikan diluar harga jasa layanan yang telah ditetapkan.
Para pelanggan PSP ini berasal dari berbagai kalangan. “Ada yang istri pejabat, istri pengusaha, orang biasa juga ada. Macem-macem, siapapun boleh pakai asal ada uang,” tegas Baron. Prinsip ‘asal ada uang’ itulah yang menbuat mereka mau melayani siapapun. Tak peduli dari kalangan atas maupun bawah. Walaupun kebanyakan pemakai jasa gigolo adalah perempuan kelas atas yang kesepian. Tak jarang gigolo juga menjadi simpanan para wanita kalangan atas. Namun, sesekali mereka juga melayani lelaki. Hanya saja tidak sesering melayani pelanggan perempuan. “Kalau orangnya cocok, dan bayaranya cocok sih oke aja,” kata Nano lirih. PSP fleksibel melayani perempuan maupun laki-laki.
Peredaran PSP di Kota Solo, sekalipun tidak terlalu marak seperti di kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, namun jasa PSP nampaknya cukup diminati di Solo. Baron menuturkan jika di daerah Nusukan dan Gilingan saja ada sekitar 30 orang yang ia ketahui. Itu pun yang tergabung di bawah germo, belum lagi para PSP freelance. Padahal menurut Baron, tempat penampungan PSP tidak hanya di kawasan Solo Utara saja. Namun, ia enggan menjelaskan di mana saja tempat penampungan PSP selain di kawasan tersebut.
Antara Kebutuhan dan Kepuasan
Malam semakin larut, mereka masih asyik bercerita sambil menyeruput minuman panas dan merokok untuk mengusir hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Hujan sudah mulai berhenti, hanya tinggal titik-titik air yang membasahi sebagian bangku tempat kami duduk. Mereka bercerita tentang awal mula mereka terjun ke dunia prostitusi. Adalah Agung yang berprofesi sebagai pedagang. Ia mengaku terpaksa menjadi PSP karena ingin mencukupi kebutuhan perekonomian keluarganya. Ia menjadi tulang punggung keluarganya sejak ayahnya meninggal lima tahun silam. Uang yang didapat dari hasil berjualan sayur dirasa tidak cukup untuk menyekolahkan adik-adiknya yang berjumlah empat orang. Bahkan salah seorang adiknya tengah duduk di bangku kelas tiga sebuah Sekolah Menengah Kejuruan kala itu.
Karena hal itulah Agung memutuskan untuk menjajal profesi sampingan sebagai PSP sejak dua tahun lalu. Awalnya ia ditawari oleh salah seorang kawannya yang juga anak buah Baron. Hingga saat ini Agung juga masih menjadi pedagang. Profesi sebagai PSP dilakukan setelah ia selesai berjualan. “Ben ra ketok welo-welo,” (supaya tidak terlalu kentara), katanya. Ia tidak ingin pekerjaan sampingannya diketahui oleh orang-orang terdekatnya, termasuk keluarganya. Setali tiga uang dengan Agung, Nano juga mengaku terpaksa melakukan pekerjaan ini. “Sebenarnya kalau saya kerja seperti ini karena terpaksa. Untuk membiayai orang tua berobat. Saya dari desa di Kabupeten Boyolali, pekerjaan sebagai buruh nggak cukup untuk membiayai berobat orang tua. Terpaksalah saya ambil jalan ini,” katanya sambil tertunduk.
Terlepas dari benar tidaknya pengakuan mereka berdua, masuk akal juga jika mereka mengunakan alasan tersebut. Di zaman sekarang ini segala barang kebutuhan pokok sangat mahal. Terlebih lagi biaya pendidikan dan kesehatan. Agung terjun ke dalam dunia prostitusi demi adik-adiknya bisa mengenyam bangku pendidikan, sedangkan Nano berusaha memenuhi biaya pengobatan orang tuanya. Ayah Nano menderita penyakit diabetes, sedangkan ibunya sudah lama menderita penyakit ginjal. Sekalipun demikian, mereka tetap tidak ingin keluarganya mengetahui bahwa mereka menjadi PSP.
Nampaknya menjadi PSP benar-benar bisa mencukupi kebutuhan mereka, bahkan mungkin lebih. Mereka bisa berpenampilan trendi seperti anak-anak muda kelas atas. Sepatu, kaos, t-shirt, arloji bermerek, serta sepeda motor keluaran terbaru menjadi simbol kemapanan mereka. Keluaraga mereka tidak menaruh curiga akan barang-barang tersebut. Para PSP ini menutupi kecurigaan keluarga mereka dengan mengatakan mereka bekerja sampingan, namun mereka tidak menyebutkan apa pekerjaan sampingannya. Keluarga hanya mengatakan kepada tetangga kalau anak-anaknya sukses bekerja di kota. “Asal kebutuhan tercukupi, mereka nggak akan tanya macam-macam,” tutur Agung.
Baron sang bos pun melakoni pekerjaan sebagai germo juga untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Istri dan anaknya mengetahui pekerjaannya, namun menurutnya mereka cuek saja. Istri, anak maupun kerabatnya yang lain tidak pernah protes terhadap pekerjaannya. Dia tidak memiliki pekerjaan lain selain sebagai germo. Istrinya pun juga tidak bekerja. “Nggak protes, karena hasil dari kerja gini banyak, dan mereka juga menikmati. Lagian istri saya juga nggak kerja,” jelasnya.
Alasan lain yang agak menggelitik diungkapkan oleh Hendi. Dia memilih menjadi gigolo untuk kepuasan batin. Dia mengaku senang dan mendapat kepuasan saat melayani para pelanggannya. Menurut Hendi, dengan melayani pelanggan dia tidak hanya memperoleh kepuasan secara material tetapi juga seksual. Dia mengaku senang jika dibooking oleh perempuan kaya. “Orang kaya biarpun sudah tua tapi masih tetap cantik. Mereka juga sering kasih uang banyak,” tuturnya. Saya mengamati lebih detil penampilan Hendi. Pandangan mata saya tertumbuk pada sepatu bermerk ‘Kickers’ yang dipakainya, sepatu dengan harga sangat mahal yang hampir mustahil jika dibeli dengan gaji orang biasa. Jika diamati, Hendi memang memiliki fisik yang paling menonjol dibandingkan dengan kedua rekannya sesama PSP. Kulitnya yang putih bersih, wajah tampan, dan postur tubuh atletis, membuat dia mudah menjaring pelanggan. Apalagi ditunjang dengan ‘tunggangannya’, sebuah motor Kawasaki Ninja 250 cc.
Melihat fenomena ini, Psikolog Arista Adi Nugroho, S.Psi, saat ditemui di sebuah acara menerangkan, ada banyak alasan seseorang untuk terjun ke dunia prostitusi. “Ada yang karena masalah ekonomi, trauma karena pernah mengalami pelecehan seksual, atau penyimpangan perilaku seksual,” terangnya. Menurutnya, orang yang sudah masuk ke prostitusi akan sulit untuk keluar dari dunia itu. Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka enggan meninggalkan profesi sebagai pekerja seks. Faktor yang terbesar adalah mereka bisa mendapatkan banyak keuntungan materi dari profesi tersebut. Apalagi alasan seseorang menjadi pekerja seks karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi. Selain itu juga karena mereka sudah terbiasa hidup di lingkungan itu. “Tetapi dengan pendampingan yang maksimal, mungkin ada yang bisa terbebas dari prostitusi,”
Memang tak bisa dipungkiri, menjadi PSP yang melayani pelanggan orang-orang kaya bisa membuat perekonomian mereka naik drastis. Tak peduli siapa yang menggunakan jasa mereka. Entah itu pria ataupun wanita, asalkan bisa membayar sejumlah uang kepada para PSP tersebut, pelanggan bisa menggunakan jasa mereka. Para pekerja prostitusi seperti mereka mau melayani siapapun dengan cara apapun, asalkan dibayar dengan sejumlah uang yang sesuai dengan pelayanannya.
Rentan Penyakit Seks Menular
Saat saya bertanya tentang penyuluhan kesehatan seksual bagi para PSP, mereka serempak menggelengkan kepala. Adalah hal yang aneh, mengingat selama ini PSK wanita sering mendapat penyuluhan kesehatan seksual, baik dari Dinas Kesehatan Kota maupun dari LSM-LSM yang peduli terhadap pekerja seks. Sedangkan PSP yang juga sama-sama pekerja seks kurang mendapatkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi. “Kalau ada aktivis, kita cuma dibagi kondom aja, nggak ada penyuluhan. Kita juga jarang, malah nggak pernah pake kondom. Soalnya pelanggan nggak suka sih,” kata Agung.
Sikap enggan memakai kondom ketika berhubungan, selain dipicu oleh  pelanggan yang tidak puas jika memakai kondom, juga karena posisi tawar PSP yang lemah. Mereka harus mau melayani apapun yang diinginkan pelanggan karena mereka sudah dibayar. Sekali lagi, mereka harus kalah dengan uang. Kembali lagi kepada prinsip mereka, jika ada uang semua bisa pakai. Hal ini sering diartikan oleh pelanggan bahwa PSP harus melayani semua keinginan mereka, termasuk tidak memakai kondom saat berhubungan. Menurut Agung,
jarang ada PSP yang pakai kondom ketika berhubungan.
Kurangnya pendampingan terhdap PSP, keengganan menggunakan kondom, dan kurang sadar akan bahaya penyakit seks menular, membuat PSP berpotensi menularkan penyakit kepada pria dan wanita. Karena mereka tidak hanya melayani wanita saja tetapi juga laki-laki.

Sabtu, 27 Juli 2013

Dampak Negatif Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja


Dampak Pergaulan Bebas di Kalangan Pelajar. Seperti yang kita ketahui, bahwasanya pergaulan bebas mempunyai dampak yang sangat negatif dan bahkan dapat mengancurkan masa depan remaja yang tergabung didalamnya. Untuk itu, perlu kiranya kita semua mempelajari Dampak Pergaulan Bebas Bagi Kalangan Remaja.
Jika Anda belum tahu dampak apasaja yang ditimbulkan akibat pergaulan bebas, silakan baca dan pelajari baik-baik artikel ini yang akan mengupas tuntas masalah dampak negatif pergaulan bebas di kalangan pelajar atau remaja. Dan hal ini harus wajib diketahui oleh putra-putri kita agar tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas.
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun.
Pesan Sponsor
Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya.
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS.
Sekarang ini zaman globalisasi. Remaja harus diselamatkan dari pengaruh globalisasi. Karena globalisasi ini ibaratnya kebebasan dari segala aspek. Sehingga banyak kebudayaan-kebudayaan yang asing yang masuk. Sementara tidak cocok dengankebudayaan kita. Sebagai contoh kebudayaan free sex itu tidak cocok dengan kebudayaan kita.
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja.
Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil.
Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seks secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.
Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen.
Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja.
Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak diinginkan.
Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut, apabila ibunya sudah tidak menghendaki. Seks pranikah, lanjut Boyke juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat.S ekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk tidak tergoda pola hidup seks bebas, kalau terus-menerus mengalami godaan dan dalam kondisi sangat bebas dari kontrol, tentu suatu saat akan tergoda pula untuk melakukannya. Godaan semacam itu terasa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan keagamaannya tidak begitu kuat.
Saat ini untuk menekankan jumlah pelaku seks bebas-terutama di kalangan remaja-bukan hanya membentengi diri mereka dengan unsur agama yang kuat, juga dibentengi dengan pendampingan orang tua dan selektivitas dalam memilih teman-teman. Karena ada kecenderungan remaja lebih terbuka kepada teman dekatnya ketimbang dengan orang tua sendiri.Selain itu, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas.
Dalam keterpurukan dunia remaja saat ini, anehnya banyak orang tua yang cuek bebek saja terhadap perkembangan anak-anaknya. Kini tak sedikit orang tua dengan alasan sibuk karena termasuk tipe jarum super” alias jarang di rumah suka pergi; lebih senang menitipkan anaknya di babby sitter. Udah gedean dikit di sekolahin di sekolah yang mahal tapi miskin nilai-nilai agama.
Acara televisi begitu berjibun dengan tayangan yang bikin ‘gerah’, Video klip lagu dangdut saja, saat ini makin berani pamer aurat dan adegan-adegan yang bikin dek-dekan jantung para lelaki.Belum lagi tayangan film yang bikin otak remaja teracuni dengan pesan sesatnya. Ditambah lagi, maraknya tabloid dan majalah yang memajang gambar sekwilda”, alias sekitar wilayah dada; dan gambar bupati”, alias buka paha tinggi-tinggi. Konyolnya, pendidikan agama di sekolah-sekolah ternyata tidak menggugah kesadaran remaja untuk kritis dan inovatif.

Ketika Seks Bebas Semakin Bebas


Oleh: Ikhsan Bawa
Penting dan tidak pentingnya pendidikan seks di Indonesia masih menjadi perdebatan, ada yang mengatakan pendidikan seks itu tidak penting, ada juga yang mengatakan penting. Memang, selama ini pendidikan seks masih dianggap tabu (khsususnya Indonesia menganut paham Timur). Sehingga banyak mengira ketika seseorang memberikan pengertian pendidikan seks, maka terbesit dalam benak mereka adalah hubungan seks. Padahal secara bahasa seks (sex) sendiri berarti jenis kelamin.
Saat ini, kebebasan seks—suatu gejala yang merata sedunia, meskipun terutama menonjol di Eropa. Amerika dan Jepang—menyebar dengan kecepatan dan kekuatan sedemikian rupa sehingga dikuatirkan menggoyahkan dasar asasi masyarakat modern. Apa yang dulu dianggap memalukan sekarang menjadi biasa saja.
Seks bebas di Indonesia sendiri sudah sangat mengkhawatirkan, budaya barat telah banyak meracuni anak muda Indonesia saat ini. Menurut data yang ada, hampir sebagian remaja Indonesia pernah melakukan hubungan seks, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sebanyak 32% remaja usia 14 – 18 tahun di kota-kota besar pernah melakukan hubungan seks. Kota-kota besar yang dimaksud tersebut antara lain; Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Parahnya lagi, sekitar 21,2% remaja putri di Indonesia pernah melakukan aborsi. Selebihnya, separuhremaja wanita mengaku pernah bercumbu ataupun melakukan oral seks. Survei yang dilakukan KPAI tersebut juga menyebutkan, 97 % perilaku seks remaja diilhami pornografi di internet.
Berangkat dari itu, tentu saja seks harus dipahami secara wajar oleh semua kalangan. Sebagai pendidik dan orang tua, pengertian tentang pendidikan seks harus dilakukan sejak dini. Agar ketika mereka tumbuh menjadi remaja, mereka sudah paham mengenai bahaya seks bebas. Pendidikan seks bukan berarti memperkenalkan secara luas dan vulgar, melainkan mengarahkan remaja untuk memahami bagaimana hubungan seks yang sehat, dan kapan waktu baik untuk seks itu dilakukan.
Seks Bebas, Tantangan Zaman
Zaman serba bebas membuat banyak peluang para remaja untuk terjerumus dalam kubangan seks bebas. Akses internet menyumbang peran terbesar terjadinya seks bebas. Buktinya, ada sekitar empat juta (4.000.000) situs porno yang bebas di akses di Indonesia. Masalah itu membuat kita susah membendung arus globalisasi negatif masuk ke kalangan remaja. Sehingga, pendidikan seks pun seakan-akan menjadi sia-sia. Seharusnya ada control dari orang tua dan para pendidik untuk lebih terbuka lagi mengenai bahasan seks bebas, bukan menggurui—tetapi mengarahkan kepada hal baik.
Tantangan zaman ini, seharusnya dibarengi dengan giatnya pendidikan seks yang dilakukan oleh pemerintah, bahkan semua kalangan, semua lapisan masyarakat luas. Karena ini tanggung jawab kita bersama. Dan seharusnya para remaja pun lebih paham akan bahaya seks bebas dan tidak terburu-buru dalam mengambil sikap tidak baik. Memang, ini bagian dari kecendurungan nurani terdalam manusia, yang punya hasrat tinggi dalam melakukan hubungan seks. Namun, tidak semerta-merta dilakukan secara arogan. Apalgi sekarang ini, bukan hanya seks bebas yang menjadi kendala terdalam, melainkan kasus pemerkosaan semakin marak dilakukan banyak orang, parahnya dari berbagai kalangan—bukan hanya remaja, atau preman. Melainkan orang tua memporkasa anaknya pun menjadi tren baru. Fenomena seperti ini sangat memalukan dan susah untuk dihentikan. Baru-baru ini, kasus seorang ibu-ibu menggauli banyak remaja. Semakin jelas, seks bebas benar-benar semakin bebas, bahkan bisa dilakukan semua kalangan, orang, dan usia.
Sisi Kesadaran Manusia
Titik lemah manusia adalah bahwa kita belum menemukan jalan lebih baik untuk menjaga martabat kita kecuali secara semu menutupi alat dan fungsi hewani kita. (Toynbee: 1987). Kita belum bisa mengontrol secara baik aktifitas pikiran dan hati kita. Sedangkan untuk menanggulangi seks bebas, nilai-nilai kebaikakan adalah jaminan mutu bagi penjagaan diri.
Namun, penulis curiga—hilangnya moralitas seksual dan tidak adanya kasih sayang dalam seks adalah bagian dari kecenderungan untuk menafsirkan hidup dengan tolok ukur nilai kebendaan saja; seks diubah menjadi bukan apa-apa kecuali sekedar alat memperoleh kenikmatan yang sama sekali lepas dari unsur spiritual. Persoalan ini pastinya akan susah menemukan problem solvingnya, persoalan seks jika terus saja dipahami sebagai sumber kenikamatan sejenak—maka dampak bahaya dari seks pun akan diabaikan.
Kesadaran pribadi akan spritualitas adalah bagian terpenting untuk mencegah seks bebas. Karena jalan untuk menangkal kebebasan seks adalah sifat yang positif. Kebebasan seks perwujudan dari hilangnya iman dan harapan bagi masa depan manusia. Antisipasinya adalah kita harus bisa memberi “wejangan ajaib” pada generasi kedepan berupa suatu tujuan yang luhur tapi tidak bersifat utopis. Dan pendidikan seks harus dilakukan secara aktif oleh semua kalangan dan tanpa menakut-nakuti, tapi harus lebih bersifat menyentuh (membangun iman yang kuat dan spiritualitas yang luhur).

80 persen lebih Remaja Indonesia Pernah Berciuman saat Berpacaran

Remaja Indonesia
Perilaku Remaja jaman sekarang berbeda jauh dengan dengan remaja tempo dulu yang suka malu-malu dan takut dengan norma-norma dan aturan agama. Pergaulan bebas di jaman sekarang sudah bukan hal yang dianggap tabu lagi bagi kalangan remaja. Sungguh merupakan hal yang tidak bisa dipersalahkan lagi, karena remaja-remaja sekarang tidak mau dianggap ketinggalan jaman dan lebih menyukai trend mode dan mengikuti alur jaman yang semakin maju.
Remaja cewek Indonesia
Remaja Sekolah Indonesia
Indikasi keterlibatan remaja-remaja dalam perilaku se*s bebas semakin terlihat. Setidaknya remaja yang sedang dimabuk kasmaran, minimalnya mereka melakukan tindakan yang mengarah pada proses awal sebelum terjadi penetrasi yang tidak layak mereka lakukan.

Jangankan di usia remaja, anak yang baru menginjak Sekolah Dasar saja sudah mengerti apa itu berpacaran, bahkan banyak dari anak SD tersebut yang sudah belajar untuk memadu kasih, ya biarpun dalam istilahnya cinta monyet, tapi nantinya juga akan menjurus pada yang tidak diharapkan, sungguh tragis.

Adegan berciuman merupakan bumbu dari berpacaran, kata mereka "berpacaran tanpa berciuman / cipokan akan terasa hambar dan tidak mempunyai makna tersendiri".

Berawal dari adegan berciuman, pada umumnya para remaja tidak bisa mengontrol diri karena mereka pada merasakan rangsangan yang sangat kuat dari berciuman, saling raba-meraba dan akhirnya terjadi penetrasi. Siapa yang rugi? Pasti kerugian akan diderita oleh sang wanita.

Sungguh mengkhawatirkan pergaulan remaja di Indonesia saat ini. Indikasi keterlibatan mereka dalam perilaku se*s bebas semakin terlihat. Minimal, mereka melakukan tindakan yang mengarah pada proses awal sebelum terjadi penetrasi yang sangat tidak diharapkan.

Dikutip oleh Tempo dari Maria Ulfah Anshor, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mulainya berbagai adegan yang mengarah pada urusan se*sual ini tidak lepas dari aktivitas pacaran dini. Banyak remaja Indonesia sudah melakukan pacaran kala usia mereka 12 tahun. Usia ini adalah usia rata-rata remaja saat ini dalam melakukan pacaran.

Menurut survey kesehatan reproduksi yang dilakukan BKKBN, usia tersebut jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan 10 tahun lalu. Anak kelas enam SD saat ini, sudah tidak segan lagi memadu kasih.

Gawatnya lagi, perilaku tidak senonoh dilakukan para remaja yang berpacaran ini kala mereka bertemu.  Sekitar 92 persen remaja yang berpacaran, saling berpegangan tangan. Ada 82 persen yang saling berciuman. Dan, 63 persen remaja yang berpacaran, tidak malu untuk saling meraba (petting) bagian tubuh kekasih mereka yang seharusnya tabu untuk dilakukan.

Ada perbedaan gaya pacaran remaja sekarang dengan dulu. Remaja saat ini lebih permisif untuk melakukan apa pun demi  “cinta”. Semua aktivitas itu yang akhirnya memengaruhi niat untuk melakukan se*s lebih jauh.
Remaja Berciuman di Jalan
Menurut Maria, se*s bebas ini membuat angka penderita HIV/AIDS di kalangan remaja meningkat tajam. Ada peningkatan 700 persen dari jumlah antara tahun 2004 hingga 2010, dari awalnya 154 kasus menjadi 1.119 kasus. Diperkirakan, penyebab utama remaja mengenal pornografi adalah dari teve, internet, dan kebebasan berlebihan yang diberikan pada anak di lingkungan keluarga. 

http://tutorial-yoshiwafa.blogspot.com/2013/01/80-persen-lebih-remaja-indonesia-pernah.html

Dampak dari Pergaulan Bebas


41.jpg
Tingginya kasus penyakit Human Immunodeficiany Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya akibat pergaulan bebas.Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual.
Di kota Denpasar dari 633 pelajar Sekolah Menengah Tingkat Atas (SLTA) yang baru duduk di kelas II, 155 orang atau 23,4% mempunyai pengalaman hubungan seksual.
Mereka terdiri atas putra 27% dan putri 18%. Data statistik nasional mengenai penderita HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 75% terjangkit hilangnya kekebalan daya tubuh pada usia remaja.
Demikian pula masalah remaja terhadap penyalahgunaan narkoba semakin memprihatinkan.Berdasarkan data penderita HIV/AIDS di Bali hingga Pebruari 2005 tercatat 623 orang, sebagian besar menyerang usia produktif. Penderita tersebut terdiri atas usia 5-14 tahun satu orang, usia 15-19 tahun 21 orang, usia 20-29 tahun 352 orang, usia 30-39 tahun 185 orang, usia 40-49 tahun 52 orang dan 50 tahun ke atas satu orang.
semakin memprihatinkan penderita HIV/AIDS memberikan gambaran bahwa, cukup banyak permasalahan kesehatan reproduksi yang timbul diantara remaja. Oleh sebab itu mengembangan model pusat informasi dan konsultasi kesehatan reproduksi remaja melalui pendidik (konselor) sebaya menjadi sangat penting.
“Pusat informasi dan konsultasi kesehatan reproduksi remaja menjadi model pemberdayaan masyarakat yang bertujuan menumbuhkan kesadaran dan peranserta individu memberikan solusi kepada teman sebaya yang mengalami masalah kesehatan reproduksi”.
Pelatihan Managemen tersebut diikuti 24 peserta utusan dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali berlangsung selama empat hari.
Belum lama ini ada berita seputar tentang keinginan sekelompok masyarakat agar aborsi dilegalkan, dengan dalih menjunjung tinggi nilai hak azasi manusia. Ini terjadi karena tiap tahunnya peningkatan kasus aborsi di Indonesia kian meningkat, terbukti dengan pemberitaan di media massa atau TV setiap tayangan pasti ada terungkap kasus aborsi. Jika hal ini di legalkan sebgaimana yang terjadi di negara-negara Barat akan berakibat rusaknya tatanan agama, budaya dan adat bangsa. Berarti telah hilang nilai-nilai moral serta norma yang telah lama mendarah daging dalam masyarakat. Jika hal ini dilegal kan akan mendorong terhadap pergaulan bebas yang lebih jauh dalam masyarakat.
Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan pelepasan tanggung jawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Legalisasi aborsi bukan sekedar masalah-masalah kesehatan reproduksi lokal Indonesia, tapi sudah termasuk salah satu pemaksaan gaya hidup kapitalis sekuler yang dipropagandakan PBB melalui ICDP (International Conference on Development and Population) tahun 1994 di Kairo Mesir.
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami ; penderitaan kehilangan harga diri (82%), berteriak-teriak histeris (51%), mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%), ingin bunuh diri (28%), terjerat obat-obat terlarang (41%), dan tidak bisa menikmati hubungan seksual (59%).
Aborsi atau abortus berarti penguguran kandungan atau membuang janin dengan sengaja sebelum waktunya, (sebelum dapat lahir secara alamiah). Abortus terbagi dua;
Pertama, Abortus spontaneus yaitu abortus yang terjadi secara tidak sengaja. penyebabnya, kandungan lemah, kurangnya daya tahan tubuh akibat aktivitas yang berlebihan, pola makan yang salah dan keracunan.
Kedua, Abortus provocatus yaitu aborsi yang disengaja. Disengaja maksudnya adalah bahwa seorang wanita hamil sengaja menggugurkan kandungan/ janinnya baik dengan sendiri atau dengan bantuan orang lain karena tidak menginginkan kehadiran janin tersebut.
Risiko Aborsi
Aborsi memiliki risiko penderitaan yang berkepanjangan terhadap kesehatan maupun keselamatan hidup seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa seseorang yang melakukan aborsi ia ” tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang “.
Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi. Resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi berisiko kesehatan dan keselamatan secara fisik dan gangguan psikologis.
Dalam buku “Facts of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd; Risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi adalah ;
- Kematian mendadak karena pendarahan hebat.
- Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.
- Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.
- Rahim yang sobek (Uterine Perforation).
- Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
- Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita),
- Kanker indung telur (Ovarian Cancer).
- Kanker leher rahim (Cervical Cancer).
- Kanker hati (Liver Cancer).
- Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.
- Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi ( Ectopic Pregnancy).
- Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).
- Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “Post-Abortion Syndrome” (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam ” Psychological Reactions Reported After Abortion ” di dalam penerbitan The Post-Abortion Review.
Oleh sebab itu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam hal ini adanya perhatian khusus dari orang tua remaja tersebut untuk dapat memberikan pendidikan seks yang baik dan benar. Dan memberikan kepada remaja tersebut penekanan yang cukup berarti dengan cara meyampaikan; jika mau berhubungan seksual, mereka harus siap menanggung segala risikonya yakni hamil dan penyakit kelamin.
Namun disadari, masyarakat (orangtua) masih memandang tabu untuk memberikan pendidikan, pengarahan sex kepada anak. Padahal hal ini akan berakibat remaja mencari informasi dari luar yang belum tentu kebenaran akan hal sex tersebut.
Nilai Pancasila
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh perusahaan riset Internasional Synovate atas nama DKT Indonesia melakukan penelitian terhadap perilaku seksual remaja berusia 14-24 tahun. Penelitian dilakukan terhadap 450 remaja dari Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 64% remaja mengakui secara sadar melakukan hubungan seks pranikah dan telah melanggar nilai-nilai dan norma agama. Tetapi, kesadaran itu ternyata tidak mempengaruhi perbuatan dan prilaku seksual mereka. Alasan para remaja melakukan hubungan seksual tersebut adalah karena semua itu terjadi begitu saja tanpa direncanakan.
Hasil penelitian juga memaparkan para remaja tersebut tidak memiliki pengetahuan khusus serta komprehensif mengenai seks. Informasi tentang seks (65%) mereka dapatkan melalui teman, Film Porno (35%), sekolah (19%), dan orangtua (5%). Dari persentase ini dapat dilihat bahwa informasi dari teman lebih dominan dibandingkan orangtua dan guru, padahal teman sendiri tidak begitu mengerti dengan permasalahan seks ini, karena dia juga mentransformasi dari teman yang lainnya.
Kurang perhatian orangtua, kurangnya penanaman nilai-nilai agama berdampak pada pergaulan bebas dan berakibat remaja dengan gampang melakukan hubungan suami istri di luar nikah sehingga terjadi kehamilan dan pada kondisi ketidaksiapan berumah tangga dan untuk bertanggung jawab terjadilah aborsi. Seorang wanita lebih cendrung berbuat nekat (pendek akal) jika menghadapi hal seperti ini.
Pada zaman modren sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem nilai yang lain yang bertentangan dengan nilai moral dan agama. Seperti model pakaian (fasion), model pergaulan dan film-film yang begitu intensif remaja mengadopsi kedalam gaya pergaulan hidup mereka termasuk soal hubungan seks di luar nikah dianggap suatu kewajaran.
Bebera faktor yang menyebabkan terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja yaitu;
Pertama, Faktor agama dan iman.
Kedua, Faktor Lingkungan seperti orangtua, teman, tetangga dan media.
Ketiga, Pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan.
Keempat, Perubahan Zaman.
Nilai Agama
Firman Allah: ” Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” ( QS 17:31 ). Banyak calon ibu yang masih muda beralasan bahwa karena penghasilannya masih belum stabil atau tabungannya belum memadai, kemudian ia merencanakan untuk menggugurkan kandungannya.
Padahal ayat tersebut telah jelas menerangkan bahwa rezeki adalah urusan Allah sedangkan manusia diperintahkan untuk berusaha. Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang. Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang.
Islam memberikan ganjaran dosa yang sangat besar terhadap pelaku aborsi. Firman Allah: “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena sebab-sebab yang mewajibkan hukum qishash, atau bukan karena kerusuhan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara keselamatan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara keselamatan nyawa manusia semuanya.” (QS 5:32 )
Oleh sebab itu aborsi adalah membunuh, membunuh berarti melakukan tindakan kriminal dan melawan terhadap perintah Allah. Al-Quran menyatakan: “Adapun hukuman terhadap orang-orang yang berbuat keonaran terhadap Allah dan RasulNya dan membuat bencana kerusuhan di muka bumi ialah: dihukum mati, atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara bersilang, atau diasingkan dari masyarakatnya. Hukuman yang demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang pedih.” (QS 5:36)
Nilai Yuridis/Hukum
Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia Bab XIV tentang kejahatan terhadap kesusilaan pasal 229 ayat (1) dikatakan bahwa perbuatan aborsi yang disengaja atas perbuatan sendiri atau meminta bantuan pada orang lain dianggap sebagai tindakan pidana yang diancam dengan hukuman paling lama 4 tahun penjara atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
Ayat (2) pasal 299 tersebut melanjutkan bahwa apabila yang bersalah dalam aborsi tersebut adalah pihak luar ( bukan ibu yang hamil ) dan perbuatan itu dilakukan untuk tujuan ekonomi, sebagai mata pencarian, maka hukumannya dapat ditambah sepertiga hukuman pada ayat (1) dia atas.
Apabila selama ini perbuatan itu dilakukan sebagai mata pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan mata pencarian tersebut. Kemudian pada pasal 346 dikatakan bahwa wanita yang dengan sengaja menggugurkan kandungannya atau meyuruh orang lain untuk melakukan hal itu diancam hukuman penjara paling lama empat tahun.
Pada pasal 347 ayat (1) disebutkan orang yang menggugurkan atau mematikan kehamilan seorang wanita tanpa persetujuan wanita itu diancam hukuman paling lama 12 tahun penjara, dan selanjutnya ayat (2) menyebutkan jika dalam menggugurkan kandungan tersebut berakibat pada hilangnya nyawa wanita yang mengandung itu, maka pihak pelaku dikenakan hukuman penjara paling lama 15 tahun.
Dalam pasal 348 ayat (1) disebutkan bahwa orang yang dengan sengaja menggugurkan kandungan seorang wanita atas persetujuan wanita itu diancam hukuman paling lama 15 tahun penjara, dan ayat (2) melanjutkan, jika dalam perbuatan itu menyebabkan wanita itu meninggal, maka pelaku diancam hukuman paling lama 17 tahun penjara. Dengan demikian, perbuatan aborsi di Indonesia termasuk tindakan kejahatan yang diancam dengan hukuman yang jelas dan tegas.
Kesimpulan
Telah jelas bagi kita tidak ada dasar bagi Rancangan pembentukan Undang-undang legalisasi aborsi karena hal itu bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, Agama dan Hukum yang berlaku. Legalisasi aborsi akan mendorong pergaulan bebas lebih jauh dalam masyarakat.
Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan pelepasan tanggung jawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Sedangkan dilarang saja masih banyak terjadi aborsi, bagaimana jika hal ini dilegalkan? Legalisasi akan berakibat orang tidak lagi takut untuk melakukan hubungan intim pranikah, prostitusi karena jika hamil hanya tinggal datang ke dokter atau bidan beranak untuk menggugurkan, dengan kondisi ini dokter ataupun bidan dengan leluasa memberikan patokan harga yang tinggi dalam sekali melakukan pengguguran.
Jika perharinya yang melakukan aborsi 7 s/d 8 orang dan harga sekali aborsi sebesar Rp. 4.000.000,-, berarti dalam satu harinya dokter ataupun bidan bisa meraup keuntungan sebesar Rp. 32.000.000,-. Jika di legalkan hal tersebut lebih berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja, legalisasi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan Agama, jika bertentangan tidak perlu diterima/dibentuk peraturan tersebut.
Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana remaja dapat menempatkan dirinya sebagai remaja yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan agama dan norma yang berlaku di dalam masyarakat serta dituntut peran serta orangtua dalam memperhatikan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari anaknya, memberikan pendidikan agama, memberikan pendidikan seks yang benar. Oleh sebab itu permasalahan ini merupakan tugas seluruh elemen bangsa tanpa terkecuali, agar menjadi sebuah proritas dalam penanganannya agar tidak terjadi kematian disebabkan aborsi tersebut.